Waktu itu Minggu pagi yang cerah. Orang-orang pergi memenuhi gereja dengan pakaian yang bagus-bagus. Ketika mereka masuk, mereka diberi sebuah buletin yang berisikan pengumuman, tema khotbah hari itu, dan nyanyian yang akan dinyanyikan dan siapa yang perlu didoakan. Pada ujung belakang deretan yang hendak masuk berdirilah seorang tua. Pakaiannya kumuh dan tampaknya sudah beberapa hari ia tidak mandi dan mencukur janggutnya.
Ketika ia sampai ke depan pintu, ia melepas topinya dan memberi hormat pada usher. Rambutnya panjang, kotor dan kusut. Lalu usher itu berkata pada orang tua ini, “Maaf Pak Tua, tetapi Anda tak boleh masuk. Anda akan mengalihkan perhatian jemaat dan kami tidak menginginkan ada orang yang mengganggu kebaktian kami.” Orang tua itu memandangnya dengan wajah bertanya-tanya, ia memakai kembali topinya lalu ia meninggalkan gereja. Ia merasa sedih, karna ia ingin mendengar lagu-lagu pujian bagi Tuhan dan merasakan suasana ibadah dan hadirat Tuhan.Tetapi sayang sekali, ia tidak diizinkan masuk…
Di dalam sakunya ada sebuah Alkitab yang sudah tua dan usang dan ingin sekali mendengarkan Firman Tuhan, ia ingin mendengar pendeta mengutip ayat-ayat yang telah banyak ia garis bawahi di Alkitabnya. Tetapi sayang sekali, ia tidak diizinkan masuk….
Lalu ia menundukkan kepala dan berjalan menuruni tangga gereja yang besar itu. Ia duduk di luar halaman gereja dengan harapan masih bisa mendengar lagu-lagu pujian kepada Tuhan melalui pintu yang telah ditutup itu. Ah, betapa inginnya ia berada di antara mereka. Betapa rindunya ia beribadah mencari wajah Tuhan. Beberapa menitpun berlalu ketika seorang muda datang dari belakang dan duduk di dekatnya.
Lalu orang muda ini bertanya pada orang tua apa yang sedang ia lakukan. Orang tua itu menjawab, “Saya ingin sekali ke gereja hari ini mencari wajah Tuhan, tetapi saya kumuh dan pakaian saya telah tua. Mereka khawatir kalau saya mengganggu kebaktian mereka, saya tidak diizinkan masuk, itu sebabnya saya berusaha menikmati puji-pujian dan suasana ibadah dari luar.” Katanya dengan sedih. Lalu kedua orang itu berkenalan dan bersalaman.
Lalu Pak tua berkata : nama saya Stefanus, dan ia melihat orang muda itu berambut panjang seperti dia, mengenakan jubah, dan memakai sandal yang telah berdebu dan kotor. Lalu orang muda itu menepukkan tangannya ke bahu Stefanus dan berkata, “ Stefanus, jangan merasa terhina karena mereka melarangmu masuk. NamaKu YESUS, Aku juga telah berusaha untuk masuk ke gereja ini selama bertahun-tahun, dan mereka tidak membolehkanKu masuk.”
Apa yang bisa kita petik dari illustrasi ini ? Ada 2 hal : Pertama, tanpa kita sadari seringkali kita masih belum membuka hati memberi tempat bagi Yesus sekalipun kita sudah bertahun-tahun beribadah. Kedua, kita menghalangi orang lain untuk datang beribadah seperti yang dialami oleh Pak Tua Stefanus ini, kita belum membuka hati memberi tempat untuk jiwa-jiwa yang terhilang, hati kita tidak terbeban untuk jiwa-jiwa yang terhilang. Kita masih belum melakukan pelayanan ini, pelayanan memberi tempat.
APA YG DIMAKSUD DENGAN PELAYANAN MEMBERI TEMPAT ?
Membuka hati menyambut Yesus untuk sekali lagi lahir dalam hati kita sehingga hidup kita diubahkan.
Contoh: Orang Majus.
Orang majus ini memberi tempat bagi Tuhan. Buktinya orang majus mempersembahkan harta mereka. Kalau orang majus mempersembahkan harta mereka, berarti mereka itu telah mempersembahkan hati mereka. Sebab ada ayat yang mengatakan dimana hartamu berada di situ juga hatimu berada. Bahkan setelah mempersembahkan harta mereka, Matius 2 : 12b menuliskan mereka pulang melalui jalan lain, artinya mereka tidak kembali ke jalan hidup mereka yg lama, sebab mereka sudah diubahkan, kapan mereka diubahkan ? Saat mereka membuka hati memberi tempat bagi Yesus, saat itulah hidup mereka diubahkan.
Kalau kita datang beribadah tapi hidup kita tidak pernah berubah itu berarti kita masih belum memberi tempat bagi Yesus di hati kita. Dalam Injil Lukas Yesus berkata orang Farisi pulang tidak sebagai orang yang dibenarkan, sebab meskipun mereka rajin beribadah tetapi mereka belum membuka hati untuk Tuhan.
Marilah kita memberi tempat buat Yesus lebih lagi pada tahun 2008 seperti orang Majus yang memberikan persembahan terbaik buat Dia!
Search Engine
Wednesday, April 1, 2009
Melarang Yesus untuk Masuk ke dalam GerejaNya Sendiri
Monday, March 30, 2009
Arti Melayani
Ada kisah tentang kebaikan dan kasih yang tercecer dari antara perayaan-perayaan Natal. Semacam kisah Orang Samaria yang Baik Hati. Kisah tentang kasih yang indah ini sayangnya tidak terjadi di gereja, tetapi di sebuah dept. store di Amerika Serikat.
Pada suatu hari seorang pengemis wanita yang dikenal dengan sebutan "Bag Lady" (karena segala harta bendanya hanya termuat dalam sebuah tas yang ia jinjing kemana-mana sambil mengemis) memasuki sebuah dept. store yang mewah sekali. Hari-hari itu adalah menjelang hari Natal. Toko itu dihias dengan indah sekali. Lantainya semua dilapisi karpet yang baru dan indah. Pengemis ini tanpa ragu-ragu memasuki toko ini. Bajunya kotor dan penuh lubang-lubang. Badannya mungkin sudah tidak mandi berminggu-minggu. Bau badan menyengat hidung.
Ketika itu seorang hamba Tuhan wanita mengikutinya dari belakang. Ia berjaga-jaga, kalau petugas sekuriti toko itu mengusir pengemis ini, sang hamba Tuhan mungkin dapat membela atau membantunya. Wah, tentu pemilik atau pengurus toko mewah ini tidak ingin ada pengemis kotor dan bau mengganggu para pelanggan terhormat yang ada di toko itu. Begitu pikir sang hamba Tuhan wanita.
Tetapi pengemis ini dapat terus masuk ke bagian-bagian dalam toko itu. Tak ada petugas keamanan yang mencegat dan mengusirnya. Aneh ya?! Padahal, para langgan lain berlalu lalang di situ dengan setelan jas atau gaun yang mewah dan mahal.
Di tengah dept. store itu ada piano besar (grand piano) yang dimainkan seorang pianis dengan jas tuksedo, mengiringi para penyanyi yang menyanyikan lagu-lagu natal dengan gaun yang indah. Suasana di toko itu tidak cocok sekali bagi si pengemis wanita itu. Ia nampak seperti makhluk aneh di lingkungan gemerlapan itu. Tetapi sang 'bag lady" jalan terus. Sang hamba Tuhan itu juga mengikuti terus dari jarak tertentu.
Rupanya pengemis itu mencari sesuatu diba gian 'Gaun Wanita;. Ia mendatangi counter paling eksklusif yang memajang gaun-gaun mahal bermerek dengan harga di atas puluhan juta. Baju-baju yang mahal dan mewah! Apa yang dikerjakan pengemis ini?
Sang pelayan bertanya, "Apa yang dapat saya bantu bagi anda?" "Saya ingin mencoba gaun merah muda itu?" Kalau anda ada di posisi sang pelayan itu, bagaimana respon anda? Wah, kalau pengemis ini mencobanya tentu gaun-gaun mahal itu akan jadi kotor dan bau, dan pelanggan lain yang melihat mungkin akan jijik membeli baju-baju ini setelah dia pakai. Apalagi bau badan orang ini begitu menyengat, tentu akan merusak gaun-gaun itu. Tetapi mari kita dengarkan apa jawaban sang pelayan toko mewah itu.
"Berapa ukuran yang anda perlukan?" "Tidak tahu!" "Baiklah, mari saya ukur dulu." Pelayan itu mengambil pita meteran, mendekati pengemis itu, mengukur bahu, pinggang, dan panjang badannya. Bau menusuk hidung terhirup ketika ia berdekatan dengan pengemis ini. Ia cuek saja. Ia layani pengemis ini seperti satu-satunya pelanggan terhormat yang mengunjungi counternya "OK, saya sudah dapatkan nomor yang pas untuk nyonya! Cobalah yang ini!" Ia memberikan gaun itu untuk dicoba di kamar pas. "Ah, yang ini kurang cocok untuk saya.
Apakah saya boleh mencoba yang lain?"
"Oh, tentu!" Kurang lebih dua jam pelayan ini menghabiskan waktunya untuk melayani sang "bag lady". Apakah pengemis ini akhirnya membeli salah satu gaun yang dicobanya? Tentu saja tidak! Gaun seharga puluhan juta rupiah itu jauh dari jangkauan kemampuan keuangannya.
Pengemis itu kemudian berlalu begitu saja, tetapi dengan kepala tegak karena ia telah diperlakukan sebagai layaknya seorang manusia. Biasanya ia dipandang sebelah mata. Hari itu ada seorang pelayan toko yang melayaninya,yang menganggapnya seperti orang penting, yang mau mendengarkan permintaannya.
Tetapi mengapa pelayan toko itu repot-repot melayaninya? Bukankah kedatangan pengemis itu membuang-buang waktu dan perlu biaya bagi toko itu? Toko itu harus mengirim gaun-gaun yang sudah dicoba itu ke Laundry, dicuci bersih agar kembali tampak indah dan tidak bau. Pertanyaan ini juga mengganggu sanghamba Tuhan yang memperhatikan apa yang terjadi di counter itu. Kemudian hamba Tuhan ini bertanya kepada pelayan toko itu setelah ia selesaimelayani tamu "istimewa"-nya.
"Mengapa anda membiarkan pengemis itu mencoba gaun-gaun indah ini?" "Oh, memang tugas saya adalah melayani dan berbuat baik!" "Tetapi, anda 'kantahu bahwa pengemis itu tidak mungkin sanggup membeli gaun-gaun mahal ini?"
"Maaf, soal itu bukan urusan saya. Saya tidak dalam posisi untuk menilai atau menghakimi para pelanggan saya. Tugas saya adalah untuk melayani dan berbuat baik." Hamba Tuhan ini tersentak kaget. Di jaman yang penuh keduniawian ini ternyata masih ada orang-orang yang tugasnya adalah melayani dan berbuat baik, tanpa perlu menghakimi orang lain.
Hamba Tuhan ini akhirnya memutuskan untuk membawakan khotbah pada hari Minggu berikutnya dengan thema "Injil Menurut Toko Serba Ada". Khotbah ini menyentuh banyak orang, dan kemudian diberitakan di halaman-halaman surat kabar di kota itu. Berita itu menggugah banyak orang sehingga mereka juga ingin dilayani di toko yang eksklusif ini. Pengemis wanita itu tidak membeli apa-apa, tidak memberi keuntungan apa-apa, tetapi akibat perlakuan istimewa toko itu kepadanya, hasil penjualan toko itu meningkat drastis, sehingga pada bulan itu keuntungan naik 48 %!
Chatting Dengan Tuhan
TUHAN : Kamu memanggilKu ?
AKU : Memanggilmu ? Tidak.. Ini siapa ya?
TUHAN : Ini TUHAN. Aku mendengar doamu. Jadi Aku ingin berbincang-bincang denganmu.
AKU : Ya, saya memang sering berdoa, hanya agar saya merasa lebih baik. Tapi sekarang saya sedang sibuk, sangat sibuk.
TUHAN : Sedang sibuk apa? Semut juga sibuk.
AKU : Nggak tahu ya. Yang pasti saya tidak punya waktu luang sedikitpun. Hidup jadi seperti diburu-buru. Setiap waktu telah menjadi waktu sibuk.
TUHAN : Benar sekali. Aktifitas memberimu kesibukan. Tapi Produktifitas memberimu hasil. Aktifitas memakan waktu, Produktifitas membebaskan waktu.
AKU : Saya mengerti itu. Tapi saya tetap tidak dapat menghindarinya. Sebenarnya, saya tidak mengharapkan Tuhan mengajakku chatting seperti ini.
TUHAN : Aku ingin memecahkan masalahmu dengan waktu, dengan memberimu beberapa petunjuk. Di era internet ini, Aku ingin menggunakan medium yang lebih nyaman untukmu daripada mimpi, misalnya.
AKU : OKE, sekarang beritahu saya, mengapa hidup jadi begitu rumit?
TUHAN : Berhentilah menganalisa hidup. Jalani saja. Analisalah yang membuatnya jadi rumit.
AKU : Kalau begitu mengapa kami manusia tidak pernah merasa senang ?
TUHAN : Hari ini adalah hari esok yang kamu khawatirkan kemarin. Kamu merasa khawatir karena kamu menganalisa. Merasa khawatir menjadi kebiasaanmu. Karena itulah kamu tidak pernah merasa senang.
AKU : Tapi bagaimana mungkin kita tidak khawatir jika ada begitu banyak ketidakpastian.
TUHAN : Ketidakpastian itu tidak bisa dihindari. Tapi kekhawatiran adalah sebuah pilihan.
AKU : Tapi, begitu banyak rasa sakit karena ketidakpastian.
TUHAN : Rasa Sakit tidak bisa dihindari, tetapi Penderitaan adalah sebuah pilihan.
AKU : Jika Penderitaan itu pilihan, mengapa orang baik selalu menderita?
TUHAN : Intan tidak dapat diasah tanpa gesekan. Emas tidak dapat dimurnikan tanpa api. Orang baik melewati rintangan, tanpa menderita. Dengan pengalaman itu, hidup mereka lebih baik bukan sebaliknya.
AKU : Maksudnya pengalaman pahit itu berguna?
TUHAN : Ya. Dari segala sisi, pengalaman adalah guru yang keras. Guru pengalaman memberi ujian dulu, baru pemahamannya.
AKU : Tetapi, mengapa kami harus melalui semua ujian itu? Mengapa kami tidak dapat hidup bebas dari masalah?
TUHAN : Masalah adalah Rintangan yang ditujukan untuk meningkatkan Kekutan mental (Purposeful Roadblocks Offering Beneficial Lessons (to) Enhance Mental Strength ). Kekuatan dari dalam diri bisa keluar dari perjuangan dan rintangan, bukan dari berleha-leha.
AKU : Sejujurnya ditengah segala persoalan ini, kami tidak tahu kemana harus melangkah...
TUHAN : Jika kamu melihat keluar, maka kamu tidak akan tahu kemana kamu melangkah. Lihatlah ke dalam. Melihat keluar, kamu bermimpi. Melihat ke dalam, kamu terjaga. Mata memberimu penglihatan. Hati memberimu arah.
AKU : Kadang-kadang ketidakberhasilan membuatku menderita. Apa yang dapat saya lakukan?
TUHAN : Ketidakberhasilan adalah ukuran yang dibuat oleh orang lain. Kepuasan adalah ukuran yang dibuat olehmu sendiri. Mengetahui tujuan perjalanan akan terasa lebih memuaskan daripada mengetahui bahwa kau sedang berjalan. Bekerjalah dengan kompas, biarkan orang lain berkejaran dengan waktu.
AKU : Apa yang menarik dari manusia?
TUHAN : Jika menderita, mereka bertanya "Mengapa harus aku?". Jika merasa bahagia, tidak ada yang pernah bertanya, "MEngapa harus aku?"
AKU : Kadangkala saya bertanya, siapa saya, mengapa saya disini?
TUHAN : Jangan mencari siapa kamu, tapi tentukanlah ingin menjadi apa kamu. Berhentilah mencari mengapa saya di sini. Ciptakan tujuan itu. Hidup bukanlah proses pencarian, tapi sebuah proses penciptaan.
AKU : Bagaimana saya bisa mendapat yang terbaik dlm hidup ini?
TUHAN : Hadapilah masa lalu-mu tanpa penyesalan. Peganglah saat ini dengan kenyakinan. Siapkan masa depan tanpa rasa takut.
AKU : Pertanyaan terkahir. Seringkali saya merasa doa-doaku tidak dijawab.
TUHAN : Tidak ada doa yang tidak dijawab. Seringkali jawabannya adalah TIDAK.
AKU : terima kasih Tuhan atas chatting yang indah ini.
TUHAN : Oke. Teguhlah dalam iman, dan buanglah rasa takut. Hidup adalah misteri untuk dipecahkan, bukan masalah untuk diselesaikan. Percayalah padaKU. Hidup itu indah jika kamu tahu cara untuk hidup.
TUHAN has signed out.
' Berpikirlah positif, Dunia akan tersenyum '